"Besi Menajamkan Besi": Bertumbuh Lewat Gesekan dan Relasi
📖 “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
(Amsal 27:17)
Dalam kehidupan nyata, masalah, tekanan, gesekan relasi, dan luka batin seringkali terasa menyakitkan. Kita cenderung menyalahkan situasi, orang lain, bahkan Tuhan.
Namun, firman ini menegaskan bahwa Tuhan dapat memakai orang-orang di sekitar kita—termasuk mereka yang “menggores”—sebagai alat untuk membentuk dan menajamkan kita.
✨ Makna Spiritualitas dan Proses Penajaman
Saat dua logam saling mengasah, pasti terjadi:
- Gesekan
- Percikan api dan bising yang tidak nyaman
Begitu juga dalam relasi dan kehidupan komunitas:
- Konflik,
- Perbedaan pendapat,
-Luka,
-Emosi negatif...
...bisa jadi adalah alat Tuhan untuk:
- Menyingkap kekurangan kita,
- Memperhalus karakter,
- Membentuk kita menjadi lebih serupa dengan Kristus (baca Roma 8:29).
📖 Yeremia 18:4 mengingatkan bahwa Tuhan adalah Penjunan, dan kita adalah bejana tanah liat yang kadang harus di-remake untuk menjadi bejana yang indah dan berguna.
---
🧠Tambahan Perspektif Sains dan Psikologi :
1. Psikologi Relasi: Pertumbuhan Terjadi Lewat Gesekan Sosial
Penelitian dalam psikologi perkembangan menyatakan bahwa:
> "Hubungan interpersonal yang penuh tantangan—jika disikapi dengan refleksi—adalah katalisator utama pembentukan karakter."
(Dr. Daniel Siegel, ahli neuropsikologi interpersonal)
👉 Relasi yang sehat (termasuk yang memicu konflik) mendorong otak kita memproses empati, kesabaran, dan pengendalian diri. Itulah dasar buah Roh: kasih, kesabaran, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22–23).
---
2. Neuroplasticity: Otak Bertumbuh Lewat Tantangan
Sains tentang neuroplastisitas menunjukkan bahwa:
> "Otak tidak bertumbuh dalam kenyamanan, melainkan dalam tekanan yang terkendali."
Gesekan, koreksi, dan bahkan konflik kecil bisa:
- Memicu jalur-jalur baru di otak,
- Memperkuat kesabaran dan fleksibilitas mental (resilience),
dan menumbuhkan kecerdasan emosional (empathy, self-regulation).
📌 Artinya: gesekan dengan orang lain = “latihan otak dan jiwa” untuk bertumbuh.
---
3. Ilmu Sosial: Komunitas Adalah Tempat Pembentukan Karakter
Menurut sosiologi spiritual, komunitas (gereja, keluarga, tempat kerja) adalah:
> “Tempat pembentukan spiritual melalui friksi, bukan hanya tempat menerima penghiburan.”
(Jean Vanier, pendiri komunitas L'Arche)
Itulah sebabnya menutup diri dan menghindari hubungan sosial justru bisa menghambat kematangan rohani dan emosional.
➡ Pertumbuhan tidak hanya terjadi saat menyendiri dengan Firman, tetapi juga ketika Firman diuji dalam hubungan nyata dengan sesama.
---
🎯 Kesimpulan:
Amsal 27:17 bukan hanya metafora rohani, tetapi juga realita biologis dan psikologis:
- Tuhan memakai gesekan sosial sebagai alat penajaman
- Ilmu sains membuktikan: emosi yang dipicu oleh hubungan sosial membentuk otak dan karakter
Maka jangan menghindar dari komunitas atau orang yang “mengasah” kita—karena bisa jadi merekalah alat Tuhan
📖 "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan..."
(Yakobus 1:12)
Penulis
Dorlin S Naklui
.jpg)
Comments
Post a Comment